Sihir dan Sulap dalam Islam

Dukun dengan aktivitasnya yang berbau klenik adalah pelaku kemunkaran yang menjerumuskan pada kesyirikan. Jangankan melakukan perdukunan, mendatanginya saja bisa menyebabkan kekufuran.

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad).

Bentuk perdukunan setidaknya terbagi dalam beberapa bentuk: Pertama, kahin yakni mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam kalbu. Kedua,arraf adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu. Dengan cara itu, ia mengaku mengetahui tempat barang yang dicuri atau hilang. Ketiga, rammal. Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml. Keempat, munajjim (ahli ilmu nujum) nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib. Kelima, sahir (tukang sihir) sihir tidak hanya terkait dengan ramalan, tetapi bahkan identik dengan tindak kejahatan, seperti santet, teluh, gendam dan lain-lain. Selain itu, perdukunan yang tersebut pada umumnya melibatkan bantuan jin.

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ قَدِ ٱسْتَكْثَرْتُم مِّنَ ٱلْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ ٱلْإِنسِ رَبَّنَا ٱسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِىٓ أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ ٱلنَّارُ مَثْوَىٰكُمْ خَٰلِدِينَ فِيهَآ إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am: 128).

Dalam ayat yang lain,

وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6).

Intinya, soal perdukunan umumnya masyarakat sudah mengerti bahwa hal itu adalah kebatilan. Namun, masih banyak di antara mereka yang terjerumus, lantaran banyaknya para dukun berkedok sebagai tokoh agama.

Sihir dan Sulap

Lantas bagaimana dengan sulap? Sulap adalah pertunjukan berbuat sesuatu yang menakjubkan seperti saputangan diubah menjadi burung merpati. Sulap bisa diartikan membuat mengadakan, mengubah dan sebagainya sesuatu dengan cara yang ajaib. Sulap juga dianggap seni pertunjukan yang membuat takjub atau heran para penonton. Suatu permainan “kelihaian” tangan, manipulasi, hasil kerja dari suatu perlengkapan/peralatan ataupun efek yang timbul dari suatu reaksi kimia dan yang telah dilatih sebaik mungkin oleh seorang pesulap sebelum dipertunjukkan kepada orang lain.

Sementara itu dalam sulap ada berbagai aliran, di antaranya illusion dan mentalism. Illusion adalah kemahiran menggunakan peralatan ilusi untuk membuat sesuatu yang mustahil seolah-olah benar terjadi. Mentalism adalah kemahiran yang merupakan kekuatan spesial untuk dapat memprediksi, menemukan, mengubah, menggerakkan, suatu benda, sering kali berdasarkan prinsip matematika, fisika, kimia, psikologis dan dapat dijelaskan secara logis. Mentalism di mana para praktisi, yang dikenal sebagai mentalis, muncul untuk menunjukkan kemampuan mental atau intuitif yang sangat berkembang. Pertunjukan dapat tampak meliputi hipnosis, telepati, ramalan, prekognisi, psikokinesis, medium, kontrol pikiran, prestasi memori, deduksi dan matematika cepat.

Berkaitan dengan kedua aliran sulap illusion dan mentalism ternyata memang bersinggungan dengan sihir. Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab mendefinisikan tentang sihir,

قال الأَزهري وأَصل السِّحْرِ صَرْفُ الشيء عن حقيقته إِلى غيره فكأَنَّ الساحر لما أَرَى الباطلَ في صورة الحق وخَيَّلَ الشيءَ على غير حقيقته قد سحر الشيء عن وجهه أَي صرفه

Al-Azhari mengemukakan, dasar pokok sihir adalah memalingkan sesuatu dari hakikat yang sebenarnya kepada yang lainnya. Seakan-akan tukang sihir memperlihatkan kebathilan dalam wujud kebenaran dan membayangkan sesuatu tidak seperti hakikat yang sebenarnya. Dengan demikian, dia telah menyihir sesuatu dari hakikat yang sebenarnya atau memalingkannya. (Lisanul ‘arab, IV/348).

Sementara itu, Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi mendefiniskan sihir, dalam kitab tafsirnya Mafatihul Ghaib, sebagai berikut,

اعلم أن لفظ السحر في عرف الشرع مختص بكل أمر يخفى سببه ويتخيل على غير حقيقته ويجري مجرى التمويه والخداع

Ketahuilah, bahwasanya lafazh sihir menurut istilah syari’at, hanya khusus berkenaan dengan segala sesuatu yang tersembunyi sebabnya dan diilustrasikan tidak seperti hakikat yang sebenarnya, serta berlangsung melalui tipu daya. (TafsirMafatihul Ghaib, III/619).

Al-Imam Ibnu Katsir juga mengutip pendapat Ar-Razi memasukkan sulap sebagai bagian dari sihir. Di mana dalam tafsirnya diterangkan tentang hal tersebut. Bahkan sebagian ahli tafsir meyakini bahwa sihir yang terjadi di hadapan Fir’aun ketika menghadapi Nabi Musa ‘alaihissalam adalah bentuk dari sulap.

التخيلات والأخذ بالعيون ، والشعبذة ، ومبناه على أن البصر قد يخطىء ويشتغل بالشيء المعين دون غيره ألا ترى ذا الشعبذة الحاذق يظهر عمل شيء يذهل أذهان الناظرين به ويأخذ عيونهم إليه ، حتى إذا استفرغهم الشغل بذلك الشيء بالتحديق ونحوه ، عمل شيئاً آخر عملاً بسرعة شديدة ، وحينئذٍ يظهر لهم شيء آخر غير ما انتظروه ، فيتعجبون منه جداً ، ولو أنه سكت ولم يتكلم بما يصرف الخواطر إلى ضد ما يريد أن يعمله ، ولم تتحرك النفوس والأوهام إلى غير ما يريد إخراجه ، لفطن الناظرون لكل ما يفعله .

قال: وكلما كانت الأحوال تفيد حسن البصر نوعًا من أنواع الخلل أشد، كان العمل أحسنَ، مثل أن يجلس المشعبذ في موضع مضيء جدًا، أو مظلم، فلا تقف القوة الناظرة على أحوالها بكلالها والحالة هذه.

 ( قلت ) وقد قال بعض المفسِّرين : إن سحر السحرة بين يدي فرعون إنما كان من باب بالشعبذة ولهذا قال تعالى : { فَلَمَّآ أَلْقُوْاْ سحروا أَعْيُنَ الناس واسترهبوهم وَجَآءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ } [ الأعراف : 116 ] ، وقال تعالى : { يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تسعى } [ طه : 66 ] قالوا : ولم تكن تسعى في نفس الأمر ، والله أعلم .

Termasuk ke dalam ilmu sihir ialah tipuan melalui ilusi, membalikkan pandangan mata, serta sulap. Dasar jenis ini ialah bahwa mata itu adakalanya keliru dan sibuk (terfokus) dengan sesuatu yang tertentu sehingga melupakan yang lainnya. Tidakkah Anda melihat bahwa seorang pesulap yang cerdik kelihatan oleh kita sedang melakukan sesuatu yang menakjubkan penglihatan orang-orang yang menontonnya hingga semua pandangan mata mereka tertuju kepadanya. Sehingga bila semua perhatian mereka tertuju kepada sesuatu yang dilakukannya itu, maka si pesulap melakukan hal yang lain secepat kilat, hingga yang tampak di mata mereka adalah sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka tunggu-tunggu dan akhirnya mereka merasa takjub sekali dengan perbuatan si pesulap itu.

Sekiranya si pesulap itu diam dan tidak mengatakan hal-hal yang memalingkan perhatian para penontonnya kepada lawan dari perbuatan yang hendak dilakukannya itu, serta jiwa dan ilusi para penontonnya tidak memperhatikan apa yang hendak diperbuatnya, niscaya penonton akan mengerti semua perbuatan yang dilakukannya.

Abu Abdullah Ar-Razi berkata, setiap kali keadaan mendukung pengurangan pandangan mata secara baik, maka hasil sulap makin bertambah baik. Misalnya si pesulap duduk di tempat yang terang sekali atau di tempat yang gelap, maka pandangan mata penonton kurang prima terhadap dirinya bila keadaannya demikian.

Aku katakan, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa sesungguhnya sihir yang dilakukan di hadapan Raja Fir’aun tiada lain termasuk ke dalam bab “Sulap”. Karena itu, Allah Ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya:

فَلَمَّآ أَلْقُوْاْ سحروا أَعْيُنَ الناس واسترهبوهم وَجَآءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan banyak orang itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). (QS. Al-A’raf: 116)

Dan firman Allah Ta’ala:

يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تسعى

Terbayang di mata Musa karena pengaruh dari sihir mereka se­akan-akan tali dan tongkat itu merayap cepat. (QS. Taha: 66)

Mereka (sebagian kalangan ahli tafsir) mengatakan bahwa tali-tali dan tongkat­tongkat tersebut pada hakikatnya tidak merayap. (Tafsir Ibnu Katsir, I/368).

Sihir itu Ada

Amatlah baik, bila ada seorang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar membongkar praktek penipuan dan trik para dukun. Semoga Allah memberikan pahala atas upaya tersebut.

Namun, bersikap ghuluw (berlebihan) sehingga tak mempercayai adanya sihir adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. Sebab, sihir realitanya ada, sebagaimana dikisahkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah jadi korban sihir.

سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ فَقَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ مَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِي أَيِّ شَيْءٍ قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ قَالَ وَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَجَاءَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا اسْتَخْرَجْتَهُ قَالَ قَدْ عَافَانِي اللَّهُ فَكَرِهْتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir oleh seseorang dari bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al-A’sham, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam dibuat membayangkan seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak berbuat apa-apa. Sampai pada suatu hari atau pada suatu malam ketika beliau berada di sisiku, tetapi beliau terus berdoa dan berdoa. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah kamu tahu bahwa Allah telah memberikan jawaban kepadaku tentang apa yang aku tanyakan kepada-Nya tentang sihir? Ada dua orang yang mendatangiku, satu di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang satunya lagi berada di dekat kakiku.” Lalu salah seorang di antara keduanya berkata kepada temannya, “Sakit apa orang ini?” “Terkena sihir”, sahut temannya. “Siapa yang telah menyihirnya?”, tanya temannya lagi. Temannya menjawab, “Labid bin Al-A’sham.” Ditanya lagi, “Dalam bentuk apa sihir itu?” Dia menjawab, “Pada sisir dan rontokan rambut ketika disisir, dan kulit mayang kurma jantan.” “Lalu, di mana semuanya itu berada?”, tanya temannya. Dia menjawab, “Di sumur Dzarwan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau. Lalu, beliau datang dan berkata, “Wahai Aisyah, seakan-akan airnya berwarna merah seperti perasan daun pacar, dan seakan-akan kulit mayang kurmanya seperti kepala setan.” Lalu kutanyakan, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau meminta dikeluarkan?” Beliau menjawab, “Allah telah menyembuhkanku, sehingga aku tidak ingin memberi pengaruh buruk kepada umat manusia dalam hal itu. Kemudian beliau memerintahkan untuk menimbunnya, maka semuanya pun ditimbun dengan segera.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian sulap -sebagaimana dijelaskan sebelumnya- termasuk sihir takhyil yang menipu pandangan mata atau ilusi. Di sisi lain ada sihir haqiqi, yang memang berdampak kepada orang yang dituju, seperti menimbulkan sakit, saling benci sehingga menyebabkan perceraian suami istri, hingga kematian. Sihir seperti itulah yang dilakukan para dukun atau tukang tenung.

Terakhir, dukun sihir seperti diketahui jelas sebuah pekerjaan batil, demikian juga pesulap bukanlah profesi yang baik. Meskipun pesulap melakukan perbuatannya sebatas trik, ilusi dan berbagai tipu daya dengan tujuan untuk menghibur. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang orang yang menghibur (membuat tertawa) dengan cara berbohong?

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud).

Oleh sebab itu, baik para dukun maupun pesulap kita doakan mereka segera bertaubat kepada Allah, agar Allah mengampuni mereka sebelum ajal menjemput. Wallahu a’lam.

Check Also

Santri Ponpes Salman Al-Farisi Khatamkan Al-Qur’an Bersama Bupati Karanganyar

Santri Pondok Pesantren Salman Al-Farisi menghadiri undangan khataman Al-Qur’an 30 juz di Masjid Agung Madaniyah …