Cethok & Rasa Syukur

218
.

Siang tadi sambil membawa Canon 650D (warisan dari sebuah Media Islam online, yang saat ini sudah mati suri), saya melakukan aktifitas ‘jeprat-jepret’ seperti biasa.

Tidak sengaja saya ‘nguping’ pembicaraan dari 3 orang Bapak-bapak tukang yang sibuk mengerjakan pekerjaannya, walaupun sibuk ngobrol akan tetapi tetap focus pada kerjaan masing-masing.

Ada yang menarik dibenak saya dari cerita dari salah seorang dari ketiganya, Bapak tersebut bercerita bahwa dia membiayai ketiga anaknya yang sedang mondok dengan bermodalkan ‘cethok’.

“Saya membeli ‘cethok’ ini kuranglebih 16 tahun yang lalu, dan Alhamdulillah dengan ‘cethok’ bisa membiayai Anak-anak saya mondok”

“Saya hanya berpesan mondok sing pinter Le…!!, Bapak duene mung ‘cethok’ iki”

“Aku yoo bingung nek ra jatah e rezekine sing nggawe urip, opo yoo iso ngragati anak telu, mondok” kenang laki-laki paruh baya tersebut.

“Sampai Anak saya ketiganya lulus, Alhamdulillah ‘cethok’ ini masih”

“Yaaah…. Kalau cuma ganti gagangnya wajarlah”

“Sampai anak saya yang pertama lulus di Ulul Al bab, masih punya sisa tunggakan 500rb, dan dia yang bayar sendiri setelah dia mendapatkan ‘gaji’ ditempat pengabdiannya”

“Sampai-sampai Ustadznya bilang kalau catetannya sudah hilang duitmu tak Infaqne hlo San… Ihsan” ceritanya sambil tersenyum.

“Hla iyo tho Dhe…. Masalah Rezeki ra ketemu nalar kok” timpal Bapak tukang yang lain.

Syukuri_apa_yang_ada


Karangpandan, 10 September 2019

‘Tukang Photo Pondok Pesantren Islam Salman Al Farisi’