Balasan Kontan Kezaliman

Zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya atau melampaui batas. Kezaliman terbagi menjadi tiga; zalim kepada Allah, kepada diri sendiri dan kepada orang lain.

Merusak kehormatan lewat tuduhan atau fitnah, mengambil harta yang bukan haknya, menumpahkan darah tanpa sebab yang syar’i dan segala tindakan aniaya, penindasan dan sewenang-wenang adalah bentuk kezaliman tehadap orang lain. Kezaliman seperti itu sekali-kali tidak akan pernah Allah biarkan,

 وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ 

“Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42).

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 الظُّلْمُ ثَلاَثَةٌ : فَظُلْمٌ لاَ يَتْرُكُهُ اللَّهُ ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ ، وَظُلْمٌ لاَ يُغْفَرُ ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لاَ يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لاَ يَغْفِرُهُ اللَّهُ ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ ، وَأَمَّا الَّذِي لاَ يُتْرَكُ فَقَصُّ اللهِ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ

Kezaliman itu ada tiga: (1) Kezaliman yang Allah tidak akan membiarkannya (2) Kezaliman yang akan diampuni Allah, (3) Kezaliman yang tidak diampuni oleh Allah. Adapun zalim yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah perbuatan syirik. Adapun kezaliman yang diampuni oleh Allah adalah zalimnya seorang hamba pada dirinya sendiri, yakni kelalaian pada hak antara dia dan Tuhannya. Adapun kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah (kezaliman sesama manusia) maka Allah akan membalasnya (qishash) antara satu dan yang lainnya. (HR. Ath-Thayalisi dan Al-Bazar).

Al-Imam Adz-Dzahabi pernah memuat berbagai kisah tentang balasan atas perilaku zalim yang bisa dijadikan ‘ibrah. Salah satunya kisah seorang yang buntung tangannya dalam kitabnya Al-Kabair, berikut ini kisah selengkapnya:

“Aku pernah melihat seorang laki-laki yang terpotong tangannya sampai ke pundak. Orang itu berkata, ‘Barangsiapa sudah melihatku, maka janganlah pernah berbuat zalim kepada seseorang!’

Saya mendekatinya lalu bertanya, ‘Wahai saudara, apa kisahmu?’ Orang itu menjawab, ‘Kisahku sangat aneh.

Dahulu, aku adalah seorang pembantu orang yang zalim. Suatu hari, aku melihat seorang nelayan yang telah berhasil menangkap seekor ikan yang sangat besar. Aku tertarik kepada ikannya, lalu menemuinya dan kukatakan, ‘Berikan ikan itu kepadaku!’ Orang itu menjawab, ‘Aku tidak akan memberikannya kepadamu. Aku akan menjualnya untuk memberi makan keluargaku.’

Lalu orang itu aku pukul dan kuambillah ikannya secara paksa. Aku pun pulang dengan membawa ikan itu. Ketika saya sedang berjalan sambil membawa ikan itu, tiba-tiba ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan kuat sekali.

Setibanya di rumah, aku lemparkan dari tanganku begitu saja dan aku pegang ibu jari tanganku. Rasanya sakit sekali sehingga aku tak bisa tidur dibuatnya. Lukaku membengkak dan keesokan harinya aku pergi menemui seorang tabib. Aku ceritakan kepadanya tentang sakitku. Ia berkata, ‘Ibu jarimu harus dipotong, karena sudah membusuk. Kalau tidak akan menjalar ke tanganmu.’ Maka ibu jariku pun dipotong.

Akan tetapi, rasa sakitnya tidak hilang, sehingga malamnya aku tidak bisa tidur dengan tenang. Ada yang menyarankan supaya kupotong saja telapak tanganku. Karena sakitnya yang tak tertahankan lagi, aku pun mengikuti saran itu, kupotong telapak tanganku. Rupanya rasa sakit itu tetap tinggal. Bahkan akhirnya menjalar sampai ke lengan. Saya tidak tahan lagi dan mulai berteriak.

Ketika ada yang menyarankan supaya kupotong sampai siku-siku, aku pun melakukannya. Namun tetap saja rasa sakitnya menjalar sampai ke lengan atas dan lebih sakit dari pada sebelumnya. Seseorang menyarankan agar kupotong tanganku sampai pangkal lengan. Aku pun mengikuti sarannya.

Lalu ada orang yang menanyakan kepadaku penyebab sakitku itu. Aku pun menceritakan bahwa aku telah merampas ikan milik nelayan itu. orang itu berkata, Wah, andaikata sejak pertama kali sakit anda pergi menemui nelayan itu dan meminta maaf serta kerelaannya lalu dia menerimanya, tentu anda tidak perlu memotong tangan anda. Sekarang, cobalah untuk mencarinya dan mintalah maaf kepadanya sebelum penyakit ini menjalar ke seluruh tubuh anda!”

Maka aku pun pergi mencari nelayan itu ke berbagai penjuru kota. Sampai akhirnya kutemukan ia dan kucium kakinya sambil menangis. Aku katakan, ‘Tuan, saya mohon dengan menyebut nama Allah. Sudilah kiranya tuan memaafkan saya!’ Nelayan itu terkejut lalu bertanya, ‘Anda ini siapa?’ Aku pun menjawab, ‘Saya adalah orang yang beberapa hari yang lalu telah merampas ikan milik tuan secara paksa.’

Lalu aku ceritakan kepadanya apa yang sudah terjadi padaku. Aku perlihatkan tanganku kepadanya dan kala melihatnya, nelayan itu menangis seraya berkata, ‘Wahai saudaraku, aku telah memaafkanmu setelah melihat bencana yang menimpamu ini.’

Kemudian aku bertanya, ‘Tuan, demi Allah, apakah tuan telah mendoakan saya dengan doa yang tidak baik ketika saya merampas ikan itu tempo hari?’ Nelayan itu menjawab, ‘Benar. Saya berdoa,

 اللَّهُمَّ هَذَا تَقَوَّى عَلَيَّ بِقُوَّتِهِ عَلَى ضَعْفِي وَأَخَذَ مِنِّي مَا رَزَقْتَنِي ظُلْمًا فَأَرِنِي فِيهِ قُدْرَتَك

Ya Allah, orang itu telah memaksakan kehendaknya kepadaku dengan kekuatannya atas kelemahanku. Ia merampas rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepadaku secara zalim. Karenanya, tunjukkanlah kekuasan-Mu kepadaku atas dirinya!’

Aku pun berkata, ‘Tuan, Allah telah memperlihatkan kekuasaanNya terhadap saya kepada tuan dan saya bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan zalim yang telah lalu dan saya berjanji tidak akan membantu orang yang zalim lagi selama hidup saya. Insya Allah wa billahit taufiq.” (Al-Kabair, hal. 104).

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas. Orang yang berbuat zalim niscaya akan dibalas kontan, sebelum pelakunya meninggal dunia.

لَيْسَ شَيْءٌ أُطِيعُ اللهَ فِيهِ أَعْجَلَ ثَوَابًا مِنْ صِلَةِ الرَّحِمِ، وَلَيْسَ شَيْءٌ أَعْجَلَ عِقَابًا مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada yang lebih cepat aku taati kepada Allah Ta’ala selain mempererat tali silaturahim dan tidak ada sesuatu yang lebih cepat balasannya dari al-bagy (kezaliman/melampaui batas) dan memutus tali silaturahim.” (HR. Baihaqi).

Dalam hadits yang lain,

كلُّ ذنوبٍ يؤخِرُ اللهُ منها ما شاءَ إلى يومِ القيامةِ إلَّا البَغيَ، وعقوقَ الوالدَينِ، أو قطيعةَ الرَّحمِ، يُعجِلُ لصاحبِها في الدُّنيا قبلَ المَوتِ

“Setiap dosa akan diakhirkan (ditunda) balasannya oleh Allah Ta’ala hingga hari kiamat, kecuali al-baghy (kezaliman/melampaui batas), durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturahimi, Allah akan menyegerakan di dunia sebelum kematian menjemput.” (HR. Al-Hakim).

Maka, berhati-hatilah wahai manusia, jangan berbuat zalim! Percayalah, tindakan zalim itu akan kembali kepada pelakunya, cepat atau lambat.

Check Also

Bencana

Mekah dahulu dikenal sebagai kota yang aman tentram dan diliputi kemakmuran. Para penduduknya mendapatkan berbagai …