Apa Tujuan Menitipkan Anak di Pesantren?

332
.

Mudir Pondok Pesantren Salman Al-Farisi, Ustadz Sanif Alisyahbana, Lc. menyampaikan khutbah ta’aruf kepada para santri dan wali santri. Kegiatan ini dilaksanakan menyambut kedatangan para santri baru di hari pertama masuk pesantren.

Ustadz Sanif -sapaan akrabnya- mengucapkan selamat datang “ahlan wa sahlan” kepada para santri yang telah hadir.

Hari pertama di pesantren merupakan hari penuh perjuangan. Orang tua harus berjuang merelakan hati melepas anak-anak tercinta. Begitu pula, para santri harus berpisah dengan orang tua mereka.

“Ini hari pertama bagi mereka mengawali perjuangan panjang, merasakan tempaan dan bagaimana perjuangan di pondok pesantren,” kata Ustadz Sanif di masjid Darul Anshar, Komplek Ponpes Salman Al-Farisi, Karangpandan, pada hari Ahad (29/5/2022).

Selaku pengasuh Ponpes Salman Al-Farisi, Ustadz Sanif berharap pesantren ini menjadi rumah kedua bagi para santri. Karena tempat inilah yang kelak akan dikenang sepanjang hidup mereka.

Selanjutnya, Ustadz Sanif memaparkan tentang definisi pesantren yang perlu dipahami para wali santri. Sebab pondok pesantren ini unik dan murni berasal dari nusantara. Pondok pesantren adalah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan kepesantrenan di mana terpenuhi di dalamnya lima unsur; kiai, santri, asrama, masjid dan kitab kuning.

Peran pesantren, menurut Ustadz Sanif amat vital, yakni menjaga peradaban Islam. Dengan adanya proses pengkaderan, maka Islam bisa menyebar ke seluruh dunia.

“Begitulah Allah Ta’ala menitipkan risalah nabiNya dari generasi ke genarasi melalui proses pendidikan, melalui dada-dada generasi Islam yang mampu menghafal Al-Qur’an, menghafal hadits, mampu memahami kalamullah dan rasulNya serta diajarkan terus menerus, bahkan menyebar ke seluruh penjuru dunia,” jelasnya.

Kemudian, hal terpenting lainnya yang perlu dipahami para wali santri adalah tujuan menitipkan anak di pesantren. Tak lain dan tak bukan agar kelak selepas lulus pesantren, santri yang dibekali adab dan ilmu, bisa menjadi mu’allim (guru) yang mencerahkan umat. Dengan demikian, putra putri mereka telah ikut serta membangun peradaban Islam.

“Ini harus jadi visi utama, karena kalau tidak demikian nanti anak-anak kita akan bias, masuk ke pesantren tidak tahu tujuannya, sehingga tidak punya tekad,” ungkapnya.

Apa pun profesi duniawi anak-anak kelak selepas pesantren, Ustadz Sanif menegaskan agar mereka harus menjadi mu’allim (guru). Setidak-tidaknya mu’allim bagi keluarga mereka sendiri. Lebih bagus lagi menjadi mu’allim umat sebagaimana di antara tugas pokok diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seperti hadits yang diriwayatkan Imam Muslim,

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِى مُعَنِّتًا وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِى مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai mu’annit (orang yang mepersulit urusan) bukan pula muta’annit (mencari-cari kesulitan) akan tetapi mengutusku sebagai mu’allim (guru) dan muyassir (yang memudahkan urusan).

Semoga dengan khutbah ta’aruf seputar pesantren semakin menambah pengetahuan baik para santri maupun orang tua atau wali. Sehingga bisa memberi dukungan penuh terhadap pendidikan anak-anak mereka di pesantren.