Akhlak Pembawa Al-Quran

197
.

“Pembawa Al-Qur’an adalah pembawa panji Islam, tidak sepantasnya ia berbuat sia-sia bersama orang yang berbuat sia-sia, tidak lalai bersama orang-orang yang lalai, tidak berbuat yang tidak bermanfaat seperti orang-orang yang berkata dan berbuat yang tidak bermanfaat. Sikap ini sebagai bentuk mengagungkan Al-Qur’an”. Imam Fudhail bin Iyyadh rahimahullah.

Nasihat emas ini ditujukan oleh Imam Fudhail bin Iyyadh rahimahullah kepada para pembawa Al-Quran. Mereka adalah guru, pelajar serta penghafal Al-Quran. Tugas para pembawa Al-Quran bukan hanya sekedar belajar membacanya atau menghafal saja, tapi harus menjaga adab serta akhlak. Dia menjadi suri tauladan baik bagi masyarakat sekitar dari aqidah, ibadah dan adab. Saat itulah pembawa Al-Quran pantas menjadi pembawa panji Islam.

Dilema hari ini, sebetulnya sudah tampak gejalanya di zaman Imam Fudhail bin Iyyadh rahimahullah, banyak pembawa Al-Quran hanya sekadar belajar dan menghafal. Allah memperumpamakan dengan keledai yang membawa kitab-kitab. Tidak bermanfaat ilmu yang dia bawa justru hanya menjadi beban di dunia dan di akhirat.

كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal”. (Al-Jumah: 5)

Surat Al-Ashr memandu, seseorang yang berilmu harus beramal. Karena inti ilmu khasyatullah, takut pada Allah, bukan banyaknya hafalan. Seperti kita menanam pohon kelengkeng, jika dia tidak berbuah tidak bermanfaat tanaman kita.

Namun apabila tidak diamalkan, saat itu kita harus memperhatikan peringatan dari Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah: “Waspada tiga hal di zamanmu; alim sultan (penguasa/pemerintah), qari pasar dan ahli ibadah yang suka pamer”.