Jalan Pintas ke Surga; Mencintai Orang-orang Sebelum Kita

226
.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Al-Hasr: 10)

Di zaman kita ini, andai seseorang berinfak fisabilillah seberat gunung Uhud tidak mungkin akan sebanding dengan infak setengah tapak tangannya sahabat radhiyallahu anhum. Artinya, kita tidak mungkin dapat menyamai ilmu, ibadah, amalan bahkan ujian orang-orang sebelum kita. Bahkan 10 persennya pun tidak mungkin!

Terdapat kaidah yang harus kita perhatikan dalam menimbang amalan orang-orang sebelum kita:

المتأخر لا يمكن أن يبلغ شأن المتقدمين

“Generasi setelahnya tidak akan mungkin dapat menyambangi kedudukan generasi sebelumnya.”

Rasulullah shalallahu ‘alaiahi wasallam bersabda:

يحشر المرء مع من يحب

“Seseorang dibangkitkan dengan yang dia cintai.”

Hadits ini dhaif tetapi terdapat hadits shahih lainnya menguatkan makna tersebut.

جاء رجلٌ إِلى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسولَ الله، كيف ترى في رجلٍ أحبَّ قوماً ولـمـَّا يَلْحَقْ بهم؟ فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم المرءُ مع من أحبَّ

“Seseorang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu seseorang mencintai kaum padahal dia tidak pernah berjumpa? Beliau menjawab: Seseorang bersama dengan yang dicintai.” (Muttafaq alaih)

Dalam hadits lainnya yang lebih jelas dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu:

أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ الله، مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ قَالَ: «وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا»، قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ «إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ. قَالَ: «نَعَمْ». فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرَحًا شَدِيدًا.

“Seseorang dari pelosok terpencil menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Wahai Rasulullah kapankah kiamat tiba? Beliau menjawab: Untuk apa kamu bertanya? Apa yang telah kamu persiapkan? Dia menjawab: Aku tidak mempersiapkan apapun kecuali hanya aku mencintai Allah dan Rasulnya. Beliau bersabda: Kamu bersama dengan yang kamu cintai. Maka para sahabat menyahut: Apakah kami juga demikian? Beliau menjawab: Iya. Maka hari itu kami menjadi sangat bahagia.” (Muttafaq alaih)

Hadits-hadits di atas mengajarkan kita keutamaan amalan hati. Kita tidak bisa mencapai sahabat dengan amalan jawarih (anggota badan) tetapi hanya dengan cinta kita bisa menyentuhnya.

Jika kita bisa mencintai Abu Bakar radhiyallahu anhu dengan makna cinta hakiki, saat itu kita bersama dengan yang kita cintai. Begitupun, bila kita dapat mencintai Umar, Utsman, Ali, Saad bin Abi Waqash, Zubair bin Awam, Ibunda Khadijah, Ibunda Aisyah, Ibunda Maimunah, Atikah dan sahabat lainnya radhiyallahu anhum kita akan dibangkitkan dengan orang-orang yang kita cintai. Mereka adalah kaum yang agung yang memenuhi semesta dengan kebaikan dan keimanan, semoga kita mencintai mereka semua.