Berbekal Kitabullah Menghadapi Wabah

108
.

Lonjakan penderita COVID-19 meningkat drastis. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah terus menyampaikan imbauan agar mematuhi protokol kesehatan; seperti memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas dan berbagai upaya pembatasan baik skala lokal maupun nasional.

Untuk menghadapi COVID-19 masyarakat juga dianjurkan menjaga imun tubuh, dengan mengonsumsi makanan kaya nutrisi dan gizi, kemudian berolahraga serta istirahat yang cukup.

Namun demkian, ada satu hal penting yang seharusnya tak dilupakan oleh kaum Muslimin dalam menghadapi wabah. Allah Sang Khaliq, Dialah yang menciptakan segala sesuatu, termasuk virus COVID-19 itu sendiri. Maka, virus corona sebagai mahluk Allah, Dia pula yang kuasa mengendalikannya. Dan petunjuk tersebut, ada di dalam kitabNya yang mulia.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57).

Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan ayat di atas, dalam kitabnya Zaadul Ma’ad, bahwa Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam, harus diyakini sebagai penyembuh.

فالقرآنُ هو الشِّفاء التام مِن جميع الأدواء القلبية والبدنية، وأدواءِ الدنيا والآخرة، وما كُلُّ أحدٍ يُؤهَّل ولا يُوفَّق للاستشفاء به، وإذا أحسن العليل التداوىَ به، ووضعَه على دائه بصدقٍ وإيمان، وقبولٍ تام، واعتقادٍ جازم، واستيفاءِ شروطه، لم يُقاوِمْهُ الداءُ أبداً
وكيف تُقاوِمُ الأدواءُ كلامَ ربِّ الأرض والسماءِ الذى لو نزل على الجبال، لصَدَعَهَا، أو على الأرض، لقطعها، فما مِن مرضٍ من أمراض القُلُوبِ والأبدان إلا وفى القُرآن سبيلُ الدلالة على دوائه وسببه، والحِمية منه لمن رزقه الله فهماً فى كتابه

“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya.

Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Rabb yang mengatur langit dan bumi. Yang apabila diturunkan (Al-Qur’an) itu kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada petunjuk yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya. Dan cara tersebut Allah karuniakan kepada orang yang diberi kepahaman dalam kitabNya.” (Zadul Ma’ad, 4/318).

Di antara aplikasi Al-Qur’an sebagai penyembuh, adalah kisah masyhur sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika meruqyah seorang kepala suku yang tersengat binatang dengan membacakan surat Al-Fatihah, sehingga Allah beri kesembuhan.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ». ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam suatu perjalanan, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu.
Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada peruqyah? karena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.”
Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah.
Akhirnya, pembesar tersebut sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau.
Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah (artinya: bisa digunakan untuk meruqyah, -pen)?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Surat Al-Fatihah itu pula yang dipraktekkan Al-Imam Ibnul Qayyim untuk meruqyah dirinya sendiri ketika sakit.

وَمَكَثْتُ بِمَكَّةَ مُدَّةً يَعْتَرِينِي أَدْوَاءٌ وَلَا أَجِدُ طَبِيبًا وَلَا دَوَاءً ، فَكُنْتُ أُعَالِجُ نَفْسِي بِالْفَاتِحَةِ ، فَأَرَى لَهَا تَأْثِيرًا عَجِيبًا ، فَكُنْتُ أَصِفُ ذَلِكَ لِمَنْ يَشْتَكِي أَلَمًا ، وَكَانَ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَبْرَأُ سَرِيعًا

“Aku pernah tinggal di Mekkah beberapa hari dalam keadaan sakit dan tidak aku dapati dokter maupun obat-obatan, maka aku pun mengobati diriku sendiri dengan bacaan Al-Fatihah maka aku pun mendapati pengaruh yang luar biasa (sembuh), lalu aku pun menasihati orang-orang yang sakit untuk juga membaca Al-Fatihah dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat.” (Al-Jawabul Kafi, 35).

Berangkat dari penjelasan di atas, maka sepatutnya kita berbekal kitabullah dalam menghadapi wabah. Karena Al-Qur’an adalah mukjizat dan penyembuh, maka yakinlah, raihlah kesembuhan dengan bacaan Al-Qur’an, sebab tak ada yang tak mungkin bagi Allah, jika Ia berkehendak.