Pembahasan Ringkas Tentang Qurban

Menjelang hari raya Idul Adha, penting kiranya kaum Muslimin mengetahui berbagai perkara tentang ibadah qurban. Pembahasan qurban ini dikutip dari kitab ‘Umdatu As-Salik Wa Uddatu An-Nasik, yang ditulis oleh Syihabuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Lu’lu’ bin Abdullah An-Naqib Ar-Rumi Al-Mishri. Seorang ulama yang hidup pada abad ke tujuh hijriyah dan tinggal di Mesir.

Kitab ‘Umdatu As-Salik merupakan mukhtashar (ringkasan) pendapat yang mu’tamad (diakui) dari fiqih mazhab syafi’i. Dengan demikian tidak disertai dalil-dalil di dalamnya, melainkan pemaparan pendapat sang penulis kitab. Hal ini dipilih, untuk memudahkan pembaca dan lebih menyentuh masyarakat akar rumput di Indonesia yang pada umumnya berpegang pada mazhab syafi’i. Berikut ini Bab Qurban selengkapnya.

بابُ الأضحية

الأضحيةهيَ سنةٌ مؤكدةٌ، يندبُ لمنْ أرادها أنْ لا يحلقَ شعرَهُ ولا يُقلِّمَ ظفرَهُ في عَشْرِ ذي الحجةِ حتى يضحِّي، ويدخُلُ وقتُها إذا طلعتِ الشمسُ ومضى قدْرُ صلاةِ العيدِ والخُطبتينِ، ويخرجُ بخروجِ أيامِ التشريقِ، وهي ثلاثةٌ بعد العيدِ

ولا تجوزُ إلا بإبل أوْ بقرٍ أوْ غنمٍ، وأقلُّ سِنِّهِ في الإبلِ خمسُ سنينَ ودخلَ في السادسةِ، وفي البقرِ والمعزِ سنتانِ ودخلتْ في الثالثةِ، وفي الضأنِ سنةٌ ودخلَ في الثانيةِ، وتجزئ البَدَنةُ عنْ سبعةٍ والبقرةُ عنْ سبعةٍ، ولا تجزئ شاةٌ إلا عنْ واحدٍ، وشاةٌ أفضلُ منْ شركةٍ في بَدَنةٍ، وأفضلها البَدَنةُ، ثمَّ البقرةُ، ثمَّ الضأنُ، ثمَّ المعزُ، وأفضلُها البيضاءُ، ثمَّ الصفراءُ، ثمَّ البلقاءُ، ثمَّ السوداءُ.

وتشترطُ سلامةُ الأضحية عن العيوبِ التي تنقص اللحمَ، فلا تجزئ العرجاءُ والعوراءُ والمريضةُ، فإنْ قلَّتْ هذهِ الأشياءُ جازَ، ولا تجزئ العجفاءُ والمجنونةُ والجرباءُ والتي قُطعَ بعضُ أذنيها وأُبينَ وإنْ قلَّ، أوْ قطعةٌ منْ فخذها ونحوهِ إنْ كانتْ كبيرةً، وتجزئ مشروطةُ الأذنِ ومكسورةُ كلِّ القَرْنِ أوْ بعضِهِ.

والأفضلُ أنْ يذبحَ بنفسهِ فإنْ لمْ يحسنْ فليحضُرْ، ويجبُ أنْ ينوي عندَ الذبحِ، ويندبُ أنْ يأكلَ الثلثَ، ويهديَ الثلثَ، ويتصدقَ بالثلثِ.

ويجبُ التصدُّقُ بشيءٍ وإنْ قلَّ، والجلدُ يتصدَّقُ بهِ، أوْ ينتفعُ بهِ في البيتِ، ولا يجوزُ بيعهُ ولا بيعُ شيءٍ منَ اللحمِ، ولا يجوزُ لهُ الأكلُ منَ الأضحيةِ المنذورةِ.

Bab Qurban

Hukum berqurban adalah sunnah muakkadah (ditekankan). Disunnahkan bagi yang akan berqurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai dia menyembelih hewan qurbanya.

Waktu penyembelihan hewan qurban dimulai sejak terbitnya matahari dan telah lewat waktu sholat ‘Idul Adha beserta dua khutbahnya.  Lalu selesai (waktu penyembelihan qurban) bersamaan dengan selesainya hari tasyriq yaitu tiga hari setelah hari raya Idul Adha.

Tidak diperkenankan berqurban kecuali dengan unta, sapi dan kambing. Umur minimal unta yang digunakan untuk berqurban adalah lima tahun jalan enam tahun.

Untuk sapi dan ma’z (mirip kambing jawa atau bandot) umur dua tahun jalan tiga tahun sedangkan dha’n (domba) usia setahun jalan dua tahun.

Seekor unta sah untuk diqurbankan oleh tujuh orang, begitu pula sapi. Sedangkan kambing hanya bisa digunakan untuk qurban oleh satu orang.

Berqurban satu kambing lebih baik daripada sapi untuk beberapa orang.

Yang terbaik untuk berqurban adalah unta, kemudian sapi, lalu ma’z (domba) dan yang terakhir dha’n (kambing) .

Kemudian yang terbaik ialah (hewan) yang berwarna putih lalu kekuningan kemudian yang putih bercampur hitam barulah terakhir yang berwarna hitam.

Dan hewan qurban disyaratkan bebas dari berbagai cacat yang mengurangi kadar daging. Maka tidak sah jika berqurban dengan hewan yang pincang, buta sebelah (matanya) atau sakit. Akan tetapi bila hanya terkena (cacat) sedikit saja maka tidak mengapa.

Sedangakan bila hewan itu sangat kurus karena penyakit yang menyebabkan sumsumnya kosong dan lemah, gila, berkudis, terpotong sebagian teliganya meski hanya sedikit, tercuil sebagian daging paha atau semisalnya, jika bagian yang tercuil itu banyak maka tidak sah digunakan untuk berqurban.

Diperbolehkan untuk berqurban hewan yang tersobek telinganya, pecah seluruh tanduk maupun sebagianya.

Dan yang paling baik agar menyembelih hewan qurbanya sendiri, bila tidak mampu maka hendaknya dia tetap datang, mewakilkannya pada yang ahli dan diwajibkan untuk niat ketika menyembelih.

Disunnahkan untuk memakan sepertiga bagian (daging qurban), sepertiga dijadikan hadiah dan menyedekahkan sepertiga sisanya. Diwajibkan untuk bersedekah darinya walau sedikit.

Sedangkan kulitnya bisa disedekahkan ataupun dimanfaatkan di rumah. Tidak diperbolehkan menjualnya ataupun menjual daging qurban sedikit pun dan tidak diperbolehkan memakan hewan sembelihan nadzar bagi yang bernadzar. 

Demikian pembahasan ringkas tentang qurban yang dikutip dari kitab ‘Umdatu As-Salik. Semoga memperkaya khazanah keilmuan bagi kaum Muslimin sekaligus mengamalkannya.

Tak lupa, kami mengajak kaum Muslimin untuk berpartisipasi dalam program tebar qurban di Pondok Pesantren Salman Al-Farisi. Informasi lengkap bisa klik brosur di bawah ini.

Check Also

Bencana

Mekah dahulu dikenal sebagai kota yang aman tentram dan diliputi kemakmuran. Para penduduknya mendapatkan berbagai …