Hafal Hadits Shahihain, Alumni Salman Al-Farisi Dihadiahi Umrah

1510
.

Dua alumni Pondok Pesantren Islam Salman Al-Farisi, Karangpandan, Karanganyar, Jateng diberangkatkan ibadah umrah setelah menghafal hadits shahihain, Ahad (6/1/2019). Muadz Albar angkatan I dan Hisham Abdul Aziz angkatan II sekarang telah berada di Masjidil Haram. Selain umrah, mereka juga berusaha menyelesaikan hafalan hadits yang belum dihafal.

Bermula pada Syawal tahun lalu, Muadz dan Hisham dikirim oleh pesantren mengikuti daurah ilmiah hadits yang dibimbing oleh para syeikh ahlul hadits dari Timur Tengah. Daurah yang bernama Hifzhu Shahihain dilaksanakan di Pondok Pesantren Wadi Mubarak Bogor selama sebulan.

Dari kanan ke kiri: Hisham dan Muadz

Dari 80 peserta yang seluruhnya hafizh quran, Muadz dan Hisham atas kemudahan Allah berhasil menghafal 2 jilid dari keseluruhan 4 jilid kitab hadits. Setelah diuji, mereka mendapat predikat baik dan berhak menerima hadiah umrah dari panitia.
Ust. Sanif Alisyahbana, Lc. Al-Hafizh. Direktur Pondok Pesantren Islam Salman Al-Farisi sangat bersyukur atas prestasi alumni tersebut.

Alhamdulillah, ini adalah kemuliaan dari Allah ta’ala bagi santri kami. Allah telah mudahkan bagi mereka bukan hanya menghafal Kalam-Nya tetapi juga sabda rasul-Nya sehingga bisa menggabungkan hafalan dua wahyu sekaligus.”

Menurut Ust. Sanif, ini adalah ketiga kalinya pesantren mengirim tim untuk mengikuti daurah Hifzhu Shahihain. Pada pengiriman pertama, Atsal Taufiqi Nandito atas izin Allah berhasil menghafal dua jilid. Jilid ke 3 diselesaikan saat umrah dan jilid ke 4 diselesaikan pada tahun setelahnya.

“Kemudian pada daurah tahun berikutnya, Alhamdulillah predikat tiga terbaik semuanya dari Ponpes Salman Al-Farisi,” jelas alumni Universitas Al-Iman Yaman ini.

Dengan program tersebut Ust. Sanif berharap santri dan alumni senantiasa menempuh cara untuk menghafal hadits Rasulullah salallahu alaihi wassalam. Termasuk pula untuk menjaga dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

“Terpenting bukan pada sisi hadiah namun kemuliaan menghafal Al-Quran dan hadits,” tutup Ust. Sanif.

Mengkader Ulama dengan Mulazamah

Pondok Pesantren Islam Salman Al-Farisi mempunyai visi mencetak kader ulama rabbani. Untuk mencapai visi besar tersebut, pesantren yang dirintis oleh Ust. Abdur Rachim Baasyir, Lc memilih model pembelajaran mulazamah sebagai konsep pendidikannya.

Dengan model mulazamah, setiap santri ditata untuk langsung menerima ilmu dari guru secara privat dengan membersamainya dalam kesehariannya. Guru akan menyesuaikan materi sesuai dengan kemampuan masing-masing santri. Dengan sistem seperti ini, santri tidak terbebani dengan banyak pelajaran namun bisa menguasai materi yang sedang didalaminya secara fokus dan terarah.

Seorang santri sedang mulazamah.

Menurut putra Ust. Abu Bakar Baasyir ini, mulazamah merupakan sistem pembelajaran yang alami dan telah digunakan oleh para ulama dari generasi ke generasi. Mulazamah terbukti menjadi metode yang paling efektif dalam pembelajaran ilmu agama Islam, hingga menghasilkan para ulama yang sangat berkompeten. Di Indonsia banyak Ulama yang menjadi panutan adalah mereka yang menjalani proses pendidikan dengan menggunakan metode Mulazamah ini diantaranya Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Menghafal Hadits Setelah Hafal Al-Quran

Santri-santri Pondok Pesantren Islam Salman Al-Farisi diizinkan menghafal hadits jika mereka telah tamat hafalan Quran. Hadits akan dipelajari dengan bimbingan para ustadz pesantren kemudian dilanjutkan pada program daurah hadits dari para ulama ahlul hadits Timur Tengah.

“Jika kita bicara pengkaderan ulama tidak lepas dari Al-Quran dan hadits. Seorang alim tidak mungkin menjadi ulama jika tidak mengenal ilmu hadits. Seorang hufazh quran sudah sewajarnya menghafal hadits, karena itu kita mengajarkan ilmu hadits, menghafal hadits dan mendorong anak-anak untuk bermulazamah dengan para ulama hadits,” tutur Ust. Abdur Rachim.

Beliau juga melanjutkan, “Alhamdulillah tahun ini santri kita mendapat pencapaian yang bagus dalam bidang hadits dengan mendapat umrah lalu menyetorkan kembali hadits dengan para syeikhnya di tanah suci.”