Tiadanya Pemberian Allah adalah Anugerah

120
.

Allah ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Pernah terjadi di Mesir, seseorang hendak bepergian namun terlambat dan tertinggal bis yang semula akan ia tumpangi. Ia sangat kecewa karena ada janji penting dan khawatir tidak bisa memenuhinya.

Ketika ia telah naik bis berikutnya, ia melihat bis yang pertama yang hendak ia tumpangi tenggelam di sungai Nil. Seluruh penumpang tewas.

Kadang kita tidak menyukai sesuatu padahal ketentuan Allah tersebut sangat baik bagi kita. Merupakan bentuk kasih sayang Allah pada kita.

Syaiban Ra’i pernah berkata kepada Sufyan Ats-Tsaury: Wahai Sufyan, anggaplah tiadanya pemberian Allah kepadamu sebagai anugerah-Nya untukmu. Sesungguhnya, Dia tidak memberimu bukan karena bakhil, tapi karena berbelas kasih.

Apabila pengertian ini benar-benar diyakini dalam hati, niscaya akan melahirkan kepasrahan total dan keridhaan paripurna terhadap takdir Allah. Sebab hamba itu buta terhadap apa yang bermanfaat untuk dirinya, sedangkan Allah Maha Mengetahui semua perkara.

Seperti kata Umar: Aku tidak peduli bagaimana aku menjalani waktu pagiku, apakah dalam kondisi seperti yang aku inginkan ataukah tidak. Karena, aku tidak tahu apakah kebaikan ada dalam apa yang aku inginkan atau pada apa yang aku benci.