Sensor Iman

Iman, ada kalanya bertambah dan berkurang. Sudah menjadi kaidah, bahwa naiknya iman karena ketaatan, berkurannya lantaran maksiat. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

فمذهب اهل السنة المتبعون للسلف الصالح ان الايمان يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

Ajaran Ahlussunnah yang mengikuti para salafusshalih (meyakini) bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan (Al-Istiqamah, II/186).

Di sisi lain, kadar keimanan seseorang juga bertingkat- tingkat, ada yang tinggi ada pula yang rendah. Nah, seorang muslim yang baik harus memiliki sensor iman. Yakni, semacam perangkat dalam dirinya, sebagai self control atau pengingat bila seseorang melakukan perbuatan dosa. Demikian pula, memberikan tanda yang mendorongnya ketika melihat peluang amal shalih. Sebab dosa dan amal shalih ini yang berperan atas bertambah atau berkurangnya iman seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ مِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَتَعَاهَدَ إِيمَانَهُ وَمَا نَقَصَ مِنْهُ، وَمِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَمُزْدَادٌ هُوَ أَمْ مُنْتَقِصٌ، وَإِنَّ مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ يَعْلَمَ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ أَنَّى تَأْتِيهِ

“Sesungguhnya di antara tanda kefaqihan seseorang ia memperhatikan kondisi imannya ketika berkurang. Dan di antara tanda kefaqihan seseorang ia mengetahui ketika imannya sedang naik dan ketika sedang berkurang. Dan di antara tanda kefaqihan seseorang ia mengetahui kapan godaan setan datang kepadanya”. (Al-Iman Al-Kabir, II/288).

Tak hanya itu, ketika terjadi penurunan iman dalam dirinya, maka akan terdeteksi dan segera memperbaikinya. Hal ini penting, agar seorang muslim tidak terperosok pada futur yang berlarut-larut.

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي، فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ، فَقَدْ هَلَكَ

“Sesungguhnya tiap amalan ada masa semangat dan di masa semangat ada masa futur. Barang siapa yang tatkala di masa futurnya ia tetap kembali kepada sunahku maka ia beruntung. Namun barang siapa yang masa futurnya bukan kepada sunahku maka ia binasa.” (HR. Ahmad).

Kemudian, ada banyak sarana untuk melakukan recovery (pemulihan) iman, misalnya beralih dari satu amal shalih kepada amal shalih yang lain atau melakukan amal shalih dengan cara yang berbeda. Contohnya, jika dalam kondisi berkurangnya iman tak sanggup membaca Al-Qur’an lima juz dalam satu waktu, maka bisa membaginya per juz setiap usai shalat fardhu. Jika dirasa berat melaksanakan shalat qiyamullail, maka laksanakan shalat witir sebelum tidur.

Bisa juga mendatangi orang-orang shalih; ulama, ustadz, kiai atau kawan yang dikenal ahli ibadah. Menimba ilmu dari mereka dengan hadir di majelisnya, meminta nasihat, bertanya atau konsultasi bila ada permasalahan. Inilah yang dilakukan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah sebagaimana pengakuan beliau,

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة

“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika gundah gulana menimpa kami atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kesempitan hidup di dunia menghampiri kami, kami segera mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua (permasalahan) yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” (Al-wabilush shayyib hal, 67).

Bahkan bila diperlukan, maka boleh saja sekelompok orang membuat perkumpulan (halaqah) dengan kesepakatan untuk bersama-sama saling mengingatkan dalam iman, takwa dan amal shalih. Para sahabat pun demikian, mereka mengajak satu sama lain untuk saling menambah keimanan. Abdullah bin Rawahah -radhiyallahu ‘anhu- pernah mengajak sekolompok kawan-kawannya untuk bermajelis bersama

“تعالوا نؤمن ساعة، تعالوا فلنذكر الله ونزدد إيماناً، تعالوا نذكره بطاعته لعله يذكرنا بمغفرته”

“Marilah kalian ke sini, kita beriman sesaat. Kemarilah kalian untuk mengingat Allah Ta’ala dan menambah iman, Kemarilah kalian untuk mengingat-Nya dengan amalan ketaatan semoga Dia mengingat kita semua dengan pemberian ampunan-Nya.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah).

Terakhir, jangan lupa memanjatkan doa. Sebab, hanya Allah yang bisa merefresh kembali keimanan seseorang agar bertambah dan menguatkannya.

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوْا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka memohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian!” (HR. Al-Hakim).

Demikian sekelumit tulisan tentang ini, semoga bermanfaat.

Check Also

Ponpes Salman Al-Farisi Gelar Turnamen Kick Boxing Santri

Pondok pesantren salman Al-farisi mengelar acara Turnamen Kick Boxing internal untuk santri putra pada Rabu …