Rabiul Awal Momentum Hijrah Sang Rasul

65
.

Kalender Hijriyah, diawali dengan bulan Muharram sebagai bulan pertama. Sebagaimana diketahui, kalender Hijriyah resmi ditetapkan sebagai penanggalan kaum Muslimin, pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Dinamakan kalender Hijriyah karena terinspirasi dari peristiwa hijriyah. Uniknya, hijirahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru bukan terjadi di bulan Muharram, melainkan di akhir bulan Shafar atau awal bulan Rabiul Awal.

Syaikh Shaiyurrahman Al-Mubarakfuri yang mengupas tentang sirah nabawiyah mengungkapkan,

غادر رسول الله صلى الله عليه وسلم بيته في ليلة 27 من شهر صفر سنة 14 من النبوة، الموافق 12/13 سبتمبر سنة 622م . وأتى إلى دار رفيقه ـ وأمنّ الناس عليه في صحبته وماله ـ أبي بكر رضي الله عنه . ثم غادر منزل الأخير من باب خلفي؛ ليخرجا من مكة على عجل وقبل أن يطلع الفجر .

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan rumahnya pada malam 27 Shafar tahun ke 14 setelah kenabian, bertepatan dengan 12 / 13 September tahun 622 M . Dan mendatangi rumah teman sejatinya -Orang paling dermawan terhadapnya dalam persahabatan dan hartanya – yaitu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu . Kemudian meninggalkan rumah terakhir melalui pintu belakang, agar dapat keluar dari Makkah sesegera mungkin, sebelum terbitnya fajar.” (Ar-Rahiqul Makhtum, 130).

Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa Sallam kemudian menuju gua Tsur dan transit selama tiga hari di sana. Kemudian, Rasulullah dan Abu Bakar mengupah Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan menuju Madinah.

وكانا قد استأجرا عبد الله بن أُرَيْقِط الليثى، وكان هاديًا خِرِّيتًا ـ ماهرًا بالطريق ـ وكان على دين كفار قريش، وأمناه على ذلك، وسلما إليه راحلتيهما، وواعداه غار ثَوْر بعد ثلاث ليال براحلتيهما، فلما كانت ليلة الاثنين ـ غرة ربيع الأول سنة 1هـ / 16 سبتمبر سنة 622م ـ جاءهما عبد الله بن أريقط بالراحلتين، وكان قد قال أبو بكر للنبى صلى الله عليه وسلم عند مشاورته في البيت : بأبي أنت يا رسول الله، خذ إحدى راحلتى هاتين، وقرب إليه أفضلهما

Keduanya (Rasulullah dan Abu Bakar) mengupah Abdullah bin Uraiqith Al-Laitsi, ia merupakan penunjuk jalan yang cakap, mahir dalam perjalanan. Sekalipun ia masih menganut agama kafir Quraisy, keduanya mempercayainya akan perjalanan yang aman bagi mereka. Ketika tiga malam di gua Tsur, Rasulullah dan Abu Bakar bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Pada hari Senin malam 1 Rabiul Awal / 16 September tahun 622 H, Abdullah Uraiqith datang kepada keduanya. Pada saat itu Abu Bakar berkata, “Demi ayahku menjadi jaminannya, Wahai Rasulullah ambillah satu ontaku ini.” dia memilih onta yang bagus untuk beliau…” (Ar-Rahiqul Makhtum, 131).

Dalam kitab yang lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal, sebagaimana disampaikan Ibnu Hisyam.

الإسناد المتقدم عن عبد الملك بن هشام قال حدثنا زياد بن عبد الله البكائي عن محمد بن إسحاق المطلبي قال قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة يوم الأثنين حين اشتد الضحاء وكادت الشمس تعتدل لثنتي عشرة ليلة مضت من شهر ربيع الأول وهو التاريخ فيما قال ابن هشام

Berdasarkan pada sanad sebelumnya, dari Abdul Malik bin Hisyam yang berkata bahwa Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata dari Abdullah bin lshaq Al-Muthallibi yang berkata: “Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, pada saat waktu dhuha berakhir, saat matahari tidak begitu panas. Itulah tanggal hijrah beliau sebagaimana dituturkan Ibnu Hisyam.” (As-Sirah An-Nabawiyah Libni Hisyam, III/135).

Sementara itu, alasan dipilihnya bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hirjriyah, maka hal itu dijelaskan Al-Hafizh Ibnu Hajar,

 وإنما أخروه من الربيع الأول إلى المحرم؛ لأن ابتداء العزم على الهجرة كان في المحرم؛ إذ البيعة كانت في أثناء ذي الحجة، وهي مقدمة الهجرة، فكان أولُ هلال استُهل به بعد البيعة والعزم على الهجرة هلالَ المحرم، فناسب أن يُجعل مبتدأ

“Para sahabat mengakhirkan awal Hijriyah dari Rabiul Awal ke Muharram karena awal niat hijrah adalah pada Muharram, karena baiat (‘aqabah kedua, pent.) adalah pada bulan Dzulhijjah yang merupakan awal dari hijrah, maka bulan pertama yang digunakan setelah ikrar baiat dan tekad untuk hijrah adalah bulan Muharram, maka sudah sepatutnya dijadikan sebagai permulaan.”(Fathul Bari, VII/268).

Dengan demikian, peristiwa besar di bulan Rabiul Awal bukan hanya kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Tetapi juga peristiwa hijrah, sebagai titik tolak peradaban Islam.