Peran Pesantren Mahasiswa (Pesma) Memelihara Generasi Kampus

534
.

Kampus identik dengan para pemuda-pemudi mencerminkan sosok berilmu, cerdas dalam berorganisasi, calon manajer hebat, analisis dan generasi pemimpin bangsa. Para orang tua sangat bangga jika anaknya berhasil duduk di bangku kuliah dan bersedih apabila gagal. Pada umumnya masyarakat masih menggantungkan harapan pada mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan).

Sayangnya, ekspektasi agak tidak sejalan dengan realita yang ada. Aset bangsa ini tidak menemukan pembinaan keagamaan yang baik di lingkungan kampus. Akibatnya kita melihat mahasiswa-mahasiswi muslim malah mudah melanggar syariat-syariat Allah seperti ikhtilat (campur baur lawan jenis) dan khalwat (pacaran) dengan alasan kerja kelompok.

Bahkan khalwat sudah menjadi pemandangan biasa di tiap sudut kampus termasuk kampus  berlebel Islam tidak selamat dari musibah itu. Paling mengkhawatirkan karena khalwat merupakan pintu seseorang terjerumus dalam perzinaan hingga hamil di luar nikah.

Selain pelanggaran syariat antar lawan jenis, sebagian mahasiswa bergaya hidup hedonis; foya-foya, hura-hura dan hidup santai. Tampak dari perilaku dan penampilan saat kuliah. Semua problem tersebut berawal dari kurangnya pemahaman agama, orientasi pendidikan sekulerisme dan lingkungan yang merusak.

Akibat dari kerusakan-kerusakan tersebut, mahasiswa justru terganggu prestasinya dan mudah mengalami depresi. Statistik yang dilakukan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada 2017 menginformasikan, angka mahasiswa DO (drop out) sejumlah 195 ribu dari total 7 juta mahasiswa. Alasan DO bisa dikeluarkan, putus sekolah atau mengundurkan diri.

Dari fenomena tersebut dakwah kampus memiliki peran penting dengan menyediakan perangkat-perangkat untuk menyelamatkan generasi muda. Perangkat dakwah kampus di antaranya membuat komunitas islami dan tempat tinggal yang kondusif.

Dengan komunitas islami berupa kelompok-kelompok kajian keislaman, mahasiswa menemukan ruang untuk saling menjaga, menasihati dan menimba ilmu keislaman. Tetapi, komunitas Islam saja tidak cukup sebagai benteng. Perlu tempat tinggal dengan lingkungan yang Islami seperti Pesantren Mahasiswa (Pesma).

Pesma menjadi solusi strategis bagi mahasiswa untuk menemukan komunitas islami sekaligus lingkungan yang kondusif. Sebuah pesantren yang di desain khusus untuk mahasiswa yang tidak menghambat perkuliahan.

Muhammad Syahid Hidayatullah, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil UMS (Universitas Muhamadiyah Surakarta) misalnya. Santri Pesma Salman Al-Farisi Yayasan An-Nubala asal Bau-bau Sulawesi Tenggara ini malah melesat prestasinya – dengan pertolongan Allah- setelah mondok. Tercatat beberapa prestasi yang diraih yaitu: sebagai asisten dosen hidraulika UMS, juara dalam berbagai perlombaan engineering dan bahasa inggris serta Ketua umum CUBE (Civil Engineering Unity for Building Innovation and Creativity) UMS.

Menurut Syahid, setelah nyantri di Pesma Salman Al-Farisi dirinya lebih bisa memanajemen waktu. Sebelumnya dia harus menyelesaikan tugas hingga larut malam. Akibatnya terlambat shalat subuh lalu melanjutkan tidur kembali. Hidup dalam ketidak teraturan dan ibadah tidak terkontrol dengan benar.

Selain Syahid, Wisnu Catur Bayu mahasiswa Magister Psikologi Profesi UMS asal Konawe Sulawesi Tenggara memilih Pesma agar dapat shalat berjamaah dengan baik, memotivasi menghafal Al-Quran dan meminimalisir pergaulan yang tidak syari.

Mahasiswa Fakultas Farmasi UMS Ikhsan Nur Rosid juga memilih nyantri di Pesma Salman Al-Farisi untuk menjaga hafalannya. Alumni PPTQ Ibnu Abbas Klaten itu khawatir dengan nasib hafalan Qurannya apabila tinggal jauh dari lingkungan Islami.

Kekhawatiran sebagian orang tua dan mahasiswa, nyantri di Pesma tertambah beban dengan pelajaran agama ternyata tidak benar. Sebab Pesma Salman Al-Farisi di rancang sedemikian rupa sebagai lingkungan ideal untuk menunjang pendidikan mahasiswa. Sehingga mahasiswa menjadi sebenar-benar agent of change harapan umat Islam untuk memperbaiki bangsa.

Amin Mukhlas: Direktur Pesma Salman Al-Farisi, Mahasiswa Magister Pendidikan Islam UMS.