Mereka yang Gagal Ujian Tahfizh

971
.

Duduk termenung di bawah pohon delima yang buahnya mulai memerah di depan taman asrama. Bias cahaya mentari petang menyela-nyela rerimbungan daunnya menerpa bola mata Faris. Sesekali ia menyeka air mata yang deras menganak di pipi.

Santri asal Tulungagung tahun kedua ini telah gagal ujian tahfizh. Pesantren memutuskan Faris memperbaiki hafalannya dan tidak mengizinkan pulang liburan sampai setorannya dinyatakan lulus.

“Liburan pesantren dimulai tanggal 16 ramadhan. Bagi santri yang gagal ujian wajib memperbaiki hafalannya dan mengajukan ujian kembali. Bila dinilai lulus baru diizinkan pulang,” terang Ust. Abdurrahim Sarjuman, Lc.

Dawud misalnya, santri dengan hafalan 6 juz ini hanya dinyatakan lulus hafalan 2 juz. Dawud harus memperbaiki empat juz lagi. Pada 18 ramadhan, Dawud mengajukan ujian kembali dan lulus tiga juz dan hari ini (19 ramadhan) santri tahun kedua ini menyelesaikan ujian satu juz baru boleh pulang.

Selain Faris dan Dawud, sejumlah 22 santri tidak diizinkan pulang liburan ramadhan. Alasannya bukan hanya gagal ujian tahfizh saja, diantara mereka ada yang belum khatam membaca Al-Quran sebanyak 30 kali.

Qosim misalnya, santri asal Solo tahun pertama ini selama setahun mondok baru menyelesaikan 21 kali khatam. Masih sisa 9 khatam lagi sehingga harus merelakan liburan ramadhannya.

“Teman seangkatan saya 50 anak, semuanya sudah khatam 30 kali. Cuma dua orang yang belum khatam termasuk saya karena terlalu banyak bermain,” aku Qosim tersipu malu.

Selama ramadhan, kegiatan santri seperti biasa kecuali kelas dirasah ditiadakan. Semuanya fokus pada Al-Quran. Begitu pula selama liburan, santri yang tidak diizinkan pulang tetap nyantri sesuai jadwal.

Bada subuh mereka tetap qiraah sampai matahari terbit. Lalu kerja bakti membersihkan komplek dan jam 8 masuk kelas halaqah Quran seperti biasa. Sebagian besar ustadz tetap stand by di pondok.

“Kami tetap di pesantren sesuai jadwal sampai tanggal 28 ramadhan. Seluruh santri baru diizinkan pulang,” jelas Ust. Afif.