Mendidik Liburan Buah Hati

282
.

Momen liburan ramadhan dan sekolah menjadi kebahagiaan anak-anak sekaligus kebingungan orang tua. Pasalnya, banyak orang tua tidak memiliki program liburan yang bervisi untuk anak. Sehingga anak-anak justru menjadi tidak terkontrol dan seolah lepas.

Ketika sekolah, anak-anak terlatih dengan rutinitas harian yang teratur dan terjadwal. Meski terkadang membuat anak mengalami kejenuhan. Hal ini dibuktikan ketika memasuki masa liburan, anak-anak tidak mampu mengatur dirinya sendiri untuk terus belajar.

Bagi anak-anak, waktu belajar hanya saat sekolah aktif. Pagi sampai sore belajar di sekolah, petang belajar di masjid dan malam belajar di rumah. Tetapi dalam benak mereka, masa libur adalah istirahat total dari belajar.

Fenomena ini terus terulang tiap semester tanpa ada solusi. Seolah kita turut terkunci dengan paradigma anak-anak kita. Biarlah mereka bebas, ini kan liburan mereka. Tentu saja pemahaman ini harus dievaluasi. Belajar itu sampai mati tidak mengenal liburan.

Kita mengenal dua bentuk pendidikan Islam modern, yaitu pendidikan berfokus Al-Quran dan umum. Pendidikan berfokus Al-Quran mengajarkan anak-anak tahsin, tajwid dan hafalan dengan target menjadi hafizh Quran.

Sedangkan pendidikan Islam umum memiliki banyak pelajaran sehingga waktu untuk pelajaran Al-Quran kurang. Akibatnya anak-anak lemah bacaan dan hafalannya.

Pada saat liburan, anak-anak yang sekolah dengan dua pendidikan tersebut menjadi musibah bagi orang tua. Anak yang memiliki hafalan banyak, tidak bisa menjaga hafalannya sedang anak yang lemah hafalannya semakin jauh dari Al-Quran.  Ini baru dampak pada pelajaran, belum lagi jika kita membahas dampak liburan pada pergaulan anak-anak terutama gadget.

Sekuat tenaga kita menjaga anak dari gadget, saat liburan mereka bermain bebas dari pagi sampai sore. Tentu saja kita sangat khawatir dengan teman-teman bermain yang memiliki gadget, kita tidak bisa mengontrol apa yang mereka saksikan.

Pernah terjadi sebuah kasus, seorang anak yang hafalannya banyak liburan ke rumah sepupunya. Kedua bersaudara ini anak-anak shalih, dekat dengan Al-Quran dan masjid. Kedua orang tuanya juga ustadz.

Meskipun liburan, jam belajar tetap diberlakukan walaupun lebih longgar. Dzhuhur sampai asar baru boleh bermain sekalian shalat di masjid. Setelah beberapa hari terjadi perubahan drastis, anak-anak sering mengunci dalam kamar. Ternyata ditemukan gadget di lemarinya.

Anak-anak yang sebelumnya polos dan jujur menjadi berserikat dan pembohong. Mengaku gadget pinjaman teman kampung padahal ternyata beli. Pertanyaannya dari mana anak-anak ini memiliki uang untuk beli gadget?

Mereka dengan cepat terpengaruh dengan teman-teman baru yang rajin ke masjid tetapi membawa gadget. Kisah ini merupakan contoh nyata, kadang liburan menjadi musibah bagi orang tua.

Belajar dari problematika yang dihadapi para orang tua, Yayasan An-Nubala mencoba mencari solusi membuat liburan efektif. Beberapa program yang kami kerjakan pada liburan ramadhan ini yaitu:

1. Itikaf ramadhan selama 10 hari.

2. Camping Quran Ramadhan untuk anak selama 3 hari.

3. Santri Mandiri Camp untuk anak di bulan syawal selama 5 hari.

Program-program tersebut masih jauh dari sempurna tapi paling tidak kami menerima kesan yang baik dari para orang tua. Sehingga mencambuk kami berbenah agar liburan tahun depan menjadi lebih bermanfaat.

Oleh: Ust. Abdurrahim Baasyir Ketua Pembina Yayasan An-Nubala