Memaknai Kemerdekaan yang Hakiki

61
.

Oleh Ustadz Fajriansyah, Lc.
(Staf Pengajar Ponpes Salman Al-Farisi)

Merdeka dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah bebas (dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya); berdiri sendiri.

Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan realita saat ini. Manusia dengan berbagai sistem dan aturan berusaha merealisasikan kemerdekaan yang mereka dengungkan dan deklarasikan. Tapi hasilnya selalu sama, kezaliman, penindasan, kesewenang-wenangan dan perbudakan.

Kita bisa saksikan fenomena, ada negara kaya mengeksploitasi negara miskin, negara adidaya menjajah negara lemah, ras yang satu merasa lebih baik dari yang lain dan seterusnya.

Ketika kemerdekaan tidak dikembalikan kepada Islam maka kegagalan demi kegagalan akan didapati. Karena tidak ada yang dapat merealisasikan makna kemerdekaan yang hakiki kecuali Islam.

Islam mengajarkan bahwa ketundukan yang sebenarnya hanyalah pada Allah saja. Ketaatan, kepatuhan mutlak tanpa syarat hanya kepada Rabb Sang Penguasa dan Pencipta Alam Raya. Itulah hal yang ditanamkan sejak dini di dada umat Islam dalam kalimat tauhid.

Jiwa yang merdeka adalah jiwa seorang Muslim sejati. Bila penindasan merajalela, di sana pula kaum muslimin bangkit di garis depan untuk melakukan perlawanan. Di negeri ini kita telah menyaksikan para ulama dan tokoh kaum Muslimin dicatat dengan tinta emas sejarah sebagai pahlawan. Mereka di antaranya, Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, sampai panglima besar Jenderal Sudirman, menjadi bukti betapa cintanya kaum Muslimin dengan kemerdekaan.

Bagaimana tidak, pendahulu mereka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sababat Ridhwanullah ‘alaihim telah mengajarkkan hal tersebut.

Sabahat Rib’i ibnu ‘Amir radhiyallahu ‘anhu pernah diminta menghadap Rustum, sang panglima perang Persia sebagai negara adidaya yang membawahi ratusan ribu pasukan. Maka Rib’i bin ‘Amir pun datang dengan gagah sebagai utusan dari kaum Muslimin di bawah perintah Panglima Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu. Beliau datang sendirian menaiki kudanya dengan gagah di tengah lautan pasukan Persia. Ia tak sedikit pun silau meihat permadani mewah nan luas terhampar dan kepingan emas permata yang berhamburan di antara bantal-bantal yang empuk. Dengan jiwa yang merdeka dia sampaikan pesan, “Allah datang bersama kami supaya kami mengeluarkan siapa yang Allah kehendaki dari peribadatan kepada sesama manusia, menuju peribadatan kepada Yang Maha Menguasai manusia. Dari zalimnya aturan selain Islam menuju keadilan Islam dan dari sempitnya dunia (karena kezaliman) menuju luasnya dunia dan akhirat. Barang siapa yang menerima seruan kami, maka kami terima ia sebagai saudara kami dan kami tinggalkan negerinya tanpa kami ikut campur di dalamnya. Adapun yang enggan, kami akan perangi sampai kami mendapatkan janji Allah.” Lantas Rustum bertanya kepadanya, ”apakah janji Allah itu?” “Syahid bagi yang mati dalam berjuang dan kemenangan bagi yang masih hidup.”

Begitu mulianya manusia merdeka, hatinya teguh tak takut pada siapa pun kecuali Allah Ta’ala. Maka, bila ingin mewujudkan kemerdekaan hakiki di negeri kaum Muslimin, mulailah dari memerdekakan diri sendiri dari penghambaan selain Allah llahi Rabbi.

Sumber:
Buletin Sanabil Edisi 33 (DOWNLOAD)