Kembali pada Al-Quran

242
.

Al-Quran kita sama dengan Al-Quran para sahabat. Tetapi keberadaan Nabi salallahu alaihi wassalam yang membawa hikmah Al-Quran dan akhlak Al-Quran itulah yang membedakan kualitas generasi setelahnya.

Nabi salallahu alaihi wassalam yang hidup merakyat bersama sahabat ternyata memiliki rahasia agung; tidak cukup hanya sekedar mengurai makna-makna lafzhiyah untuk memahami keseluruhan surat. Dengan keberadaan Nabi salallahu alaihi wassalam mereka belajar memahami apa itu Al-Quran, belajar memahami karakteristik seorang mukmin dari manusia agung dan termulia.

Para sahabat hidup membersamainya dalam segala titik kehidupan hingga detil sampai mereka belajar untuk masuk ke dalam syakhsiyah (pribadi) Nabi salallahu alaihi wassalam secara rinci. Sahabat belajar Al-Quran bukan hanya dalam halaqah majlis-majlis ilmiah, jauh dari itu mereka berusaha mengclone syakhsiyah Nabi salallahu alaihi wassalam, akhlaknya, sifat-sifatnya, prinsipnya, ibadahnya dan semuanya yang bisa mereka serap dengan segala cinta.

Ungkapan cinta pada Rasulullah salallahu alaihi wassalam bukan hanya ucapan mesra di lisan tapi diwujudkan dalam bentuk ittiba (mengikuti). Level ittiba sahabat bukan semata memenuhi syarat diterimanya ibadah, tapi mencintai apapun yang dilakukan oleh Nabi salallahu alaihi wassalam meskipun hasilnya sesuatu yang dibenci nafsu dan keinginan manusia.

Ittiba sahabat pada Nabi salallahu alaihi wassalam bukan hanya ittiba lahiriyah, namun ittiba yang dibingkai dengan cinta tulus dalam hati sehingga antara Nabi salallahu alaihi wassalam dan sahabat radhiyallahu anhum terjalin rajutan saling cinta mencintai.

Bila kita ingin berbicara tentang Al-Quran, tema pertama yang disampaikan yaitu; umat tidak akan mendapat hidayah kecuali harus kembali pada Al-Quran. Jika kita ingin melihat perubahan dalam umat wajib melihat perubahan sikap umat pada Al-Quran.

Gerakan memasyarakatkan Al-Quran sampai kepelosok pedesaan harus serius digarap. Agar negeri kita kembali berjaya, berdaulat dan sentosa. Sebab, kejayaan suatu bangsa tergantung penerimaan mereka pada Al-Quran seperti sabda Nabi salallahu alaihi wassalam:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengannya pula.” (Muslim)

Oleh: Ust. Ahmad Saifuddin, Pengajar Al-Quran Pondok Pesantren Islam Salman Al-Farisi