Gajah Mati Meninggalkan Gading

909
.

Allah ta’ala berfiman:

وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا

“Dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam 50)

Menjadi janin, dilahirkan, tumbuh sebagai bayi lalu beranjak dewasa kumudian berangsur-angsur menua lalu wafat merupakan siklus manusia. Setiap orang yang memiliki ruh, nafas dan jasad akan mengalami seluruh siklus ini.

Berbedaannya adalah, manusia hidup di dunia ini dalam kondisi yang beragam. Pahit, getir dirasakan berbeda. Mengarungi setiap detak jantungnya untuk sekian waktu lamanya, kemudian meninggalkan dunianya.

Sayangnya, sebagian orang menjalani kehidupannya ibarat mendung di musim kemarau. Mengawan hitam di atmosfer namun ketika diharapkan hujan malah lenyap tanpa bekas. Tidak ada awan, tidak ada rintik hujan. Rumput tetap mengering kapanpun mudah terbakar lalu turut hangus tanpa bekas, mengecewakan.

Sebagian orang hidup bertahun-tahun kemudian mereka meninggal. Mereka pernah hidup, tapi tidak ada seorangpun yang merasakan keberadaan mereka. Saat meninggal tidak ada seorangpun yang mengenang mereka. Seperti buih dalam deru ombak tinggi samudera laut Selatan.

Jika kita mencermati sejarah sahabat radhiyallahu anhum, kita menemukan nama mereka nanharum. Tidak akan ada habisnya tinta menulis kemuliaan mereka. Padahal 14 abad telah berlalu tetapi semua kita bangga mengenang sahabat dan mengenalkannya pada anak cucu.

Mereka pernah hidup tapi tidak seperti mendung di musim kemarau. Karena amal-amalnya yang agung, seluruh umat muslim sejagad masih bisa merasakan kenikmatan amal mereka hingga hari kiamat. Mereka adalah orang-orang yang telah pergi membawa pahala, sedang jasanya terus berbunga sepanjang masa.

Inilah yang disebut atsar atau bekas yang mulia, Allah ta’ala menyebutnya dengan;

“Buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam 50)

Peribahasa kita mengatakan:

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Meninggalkan atsar yang baik bukanlah perkara mudah. Sebab itu buah dari konsistensi amal yang diperjuangkan terus menerus. Ia membutuhkan kesabaran serta keikhlasan. Harus ada pengorbanan dan pengabdian. Mungkin hanya air mata yang berurai atau bahkan darah seperti perjuangan para sahabat memenangkan agama ini. Supaya Allah ridha lalu menyebutnya dengan:

“Dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam 50)