Bersyukur atas Nikmat Hujan

47
.

Proses daur air merupakan salah satu proses yang di dalam Al-Qur’an sering tersurat, didekripsikan secara rinci dan mudah dimengerti. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَٰرِ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nur: 43).

Subhanallah, 14 abad yang lalu, sebelum adanya penelitian dan peralatan modern, Al-Qur’an telah berbicara bagaimana siklus air hujan maupun salju. Apa yang disampaikan Al-Qur’an ini akhirnya terbukti secara ilmiah di masa kini.

Kemudian, dengan keunikan sifat-sifatnya, perannya bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya, dan kemungkinan pemanfaatannya untuk kesejahteraan manusia, tampak jelas bahwa air hujan merupakan suatu bentuk dari rahmat Allah untuk umat manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِى يُرْسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ ٱلْمَآءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ ٱلْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS. Al-A’raf: 57).

Jika kita ingin memperhatikan sedikit saja tentang hujan, niscaya gambaran rahmat atau kasih sayang Allah Ta’ala itu amat nyata. Karena Allah telah menciptakan air hujan dalam keadaan bersih untuk berbagai keperluan makhluk dan menyuburkan tanah yang tandus.

Proses purifikasi air hujan itu berlangsung sebagai berikut; peguapan air di alam dan kondensasi uap menjadi hujan pada dasarnya adalah proses pemurnian air, seperti halnya proses destilasi air di laboratorium. Uap adalah molekul-molekul air yang berubah fasa menjadi gas. Ketika menguap itulah molekul air terbang meninggalkan bahan-bahan terlarutnya. Meskipun di antara bahan terlarut tersebut terdapat gas (misalnya CO2, NOx atau metan) atau zat yang juga dapat berubah fasa menjadi gas (misalnya khlor), penguapan akan memisahkan air dari pengotornya. Oleh karena itu air hujan pada dasarnya adalah air murni. Masya Allah, dari proses tersebut begitu besar rahmat Allah yang turun lewat air hujan.

Coba bayangkan, bila air hujan itu turun seperti keadaannya di bumi, seperti air asin, air comberan atau kotoran. Sejelek apa pun kondisi air di bumi, ketika menguap mengalami proses pemurnian, lalu turun menjadi air hujan, maka air itu menjadi tawar, sehingga bisa digunakan untuk bersuci hingga dikonsumsi, termasuk pula bermanfaat menghidupkan tumbuhan. Maka kaum Muslimin diajarkan untuk berdoa ketika turun hujan,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032).

Semoga ayat-ayat kauniyah tersebut menyadarkan manusia kepada kekuasaan Sang Pencipta. Tujuannya, agar mereka beriman dan bersyukur kepada Allah, sebagai Rabb Semesta Alam. Bila disyukuri hujan akan menjadi rahmat, tanpa disyukuri hujan akan terhenti atau akan berubah menjadi adzab. Na’udzubillah.